Bahasa Indonesia HL

Peran Bahasa dalam Gender dan seksualitas

How can language be gender-biased?

Bagaimana bahasa dapat menjadi sebuah bias gender?

Bahasa dapat menjadi sebuah bias gender karena bahasa sebenarnya adalah pernyataan yang memberikan gambaran tertentu dan mengekspresikan perasan atau pikiran orang terhadap sesuatu. Karena bahasa digunakan untuk mengekspresikan perasan seseorang, bahasa juga memiliki bias atau pikiran seseorang terhadap sesuatu. Gambaran-gambaran tersebut dapat juga dilingkungi oleh bias berdasarkan jenis kelamin. Karena itu, bahasa memiliki bias.

How does language reinforce stereotypes or culturally received ideas about what different genders do, and don’t do, think and don’t think?

Bagaimana suatu bahasa memperkuat stereotip atau gagasan budaya yang diterima tentang apa jenis kelamin yang berbeda lakukan dan tidak melakukan, berpikir dan tidak berpikir?

Bahasa dapat memperkuat stereotip melalui pemilihan kata. Contohnya dapat diambil dari kata “Macho”. Kata ini lebih diasosiasikan kepada laki-laki dan juga menunjukan kejantanannya. Kata “tukang” juga dapat menjadi contoh, karena biasanya seseorang yang dipanggil “tukang” adalah laki-laki, namun banyak perempuan juga yang pekerjaannya sama.

Does language reflect our world, or does it create it? Is Indonesian really a non-sexist language because it has no masculine and feminine forms?

Apakah Bahasa Indonesia mencerminkan dunia atau membentuk dunia? Apakah Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang non-sexist karena tidak menunjukkan adanya bentuk maskulinitas dan feminin?

Bahasa adalah sesuatu yang membentuk dunia. Dengan bahasa, komunikasi dapat terjadi dan dengan komunikasi dunia dapat berkembang. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang non-sexist karena bahasa tersebut tidak menunjukan adanya bentuk maskulinitas dan feminim. Sebenarnya Bahasa Indonesia tidak banyak melakukan pembagian bahasa berdasarkan jenis gender atau jenis kelamin. Tidak banyak kata yang membedakan beda jenis kelamin seperti di bahasa inggris (fireman/firewomen = pemadam kebakaran) Namun Walaupun bahasanya sendiri tidak mengungkapan bias dalam gender, kenyatannya bias gender tetap ditunjukkan melalui stereotip kata-kata tertentu, seperti tukang, dll.

Is there a difference in the way men and women use language to achieve the same things? What are things that men can get away with saying but women can’t (or vice-versa)?

Apakah ada perbedaan dalam cara pria dan wanita menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan yang sama? Hal-hal apakah yang bisa dikatakan oleh pria tetapi tidak bisa dikatakan oleh wanita (atau sebaliknya)?

Bahasa dan komunikasi lebih diprioritaskan oleh wanita daripada pria dimana biasanya wanita berbicara lebih banyak daripada pria. Pria biasanya lebih direk dan menggunaan bahasa yang lebih langsung, wanita lebih menggunakan bahasa untuk membuat koneksi dengan orang lain seperti perasaan, dll. Pria juga biasanya lebih langsung mengatakan perasaannya terhadap sesuatu atau seseorang dibanding wanita yang lebih memikirkan dan peduli harmoni dan perasaan lawan bicara dan tidak ingin menyakitinya. Pria juga menggunakan bahasa yang direk, seperti “kerjakan ini sekarang”, dibanding wanita yang menggunakan bahasa yang tidak langsung, seperti pertanyaan “kenapa tidak kita kerjakan ini?”

Pria dapat mengatakan kata-kata yang mengandung bahasa kasar dan berbicara tentang hal-hal yang lebih seksual dan dipandang oleh masyarakat sebagai hal yang normal. Namun jika wanita melakukan hal-hal tersebut, masyarakat akan melihat wanita tersebut sebagai wanita yang kasar dan tidak sopan. Di sisi lain, wanita boleh mengatakan kata-kata yang mengandung perasaan yang dalam kepada sesama gender dan juga mengatakan kata-kata yang memuji/komplimen. Jika seorang laki-laki mengatakan perasaan atau memuji-muji satu sama lain, pria tersebut akan dilihat sebagai orang yang aneh dan tidak jantan.

 

Leave a Reply