Bahasa Indonesia HL

Kata-Kata Bijak dan Kutipan di Novel Tarian Bumi – Oka Rusmini

Inilah beberapa kata-kata bijak dan kutipan bijak dari Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini termasuk penjelasnannya.


Tokoh Kutipan Isu yang di usun
Wayan 1.        “Tiang tidak ingin menyelsali atau memaki perasaan tiang. Ini pilihan. Tiang harus berani melakukan untuk diri tiang sendiri. Tiang sadar ini tidak pantas, tetapi perasaan tiang tidak bisa tiang bohongi Menjadi manusia yang utuh harus berani bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Tugeg jangan menangis.” (135) 1.       Harus berani bertanggung jawab dengan pilihan
Luh Kenten 1.        “Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya hidup agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka Cuma perlu kasih sayang, cinta dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet(32)

2.        “Dengar baik-baik. Untuk mewujudkan keinginan itu kita harus yakin bahwa kita sungguh-sungguh menginginkannya. Aku marah, Kenten marah sekali! Tidaklah para tetua adat desa ini menyadari bahwa aku layak jadi penari?” (39)

1.       Cari perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang dan perempuan hanya perlu kasih saying, cinta dan perhatian (cara mencari perempuan yang baik).

2.       Untuk mewujudkan suatu keinginan, kita harus yakin bahwa kita sungguh sungguh menginginkannya (menjadi penari).

Ida Ayu Sagra Pidada 1.        “Kata Nenek, tidak pantas Ibu berlaku seperti itu. Seorang perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosi. Harus menunjukkan kewibawaan. Ketenangan. Dengan menunjukan hal-hal itu berarti ibu sudah bisa menghargai suaminya. (63)

2.        “Anak perempuan tidak boleh duduk sembarangan” kata neneknya, dengan kerasya memukul paha Telaga. (65)

3.        “Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh system. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko.” (18)

4.        “Sayang sekali, laki-laki itu tidak tepat untuknya. Tuniannngmu adalah perempuan paling lugu. Baginya cinta itu sangat sacral. Dia juga sangat mengagungkan nilai-nilai kebangsawanan.” (19)

5.        “Bagi nenek, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya.“(hal 64)

6.        “Ya, Tugeg. Makanya, Tugeg harus belajar dari pengalaman. Jangan pernah lari dari kenyataan. Semua harus dihadapi dengan berani. Semua orang memiliki peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya.” (104)

1.       Perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosi dan menunjukan kewibawaan dan ketenganan (karakteristik perempuan Bali yang baik).

2.       Perempuan Bali harus duduk dengan teratur dan sopan (tata karma perempuan Bali).

3.       Menikahlah dengan laki-laki yang memberi ketenangan, cinta dan kasih. Jangan menikah hanya karena terpaksa

4.       Cinta itu sacral

5.       Wibawa harus dijaga (supaya di hormati)

6.       Harus belajar dari pengalaman dan jangan lari dari kenyataan. (walaupun hidup susah, harus tetap dijalankan dengan positif)

Luh Kambren 1.        “Menjadi penari itu harus siap berbakti kepada para dewa. Menari harus mampu berdialog dengan jiwa. Kalau Tugeg tidak sanggup melakukannya, jangan pernah bermimpi menjadi seorang penari” (75) 1.       Jangan pernah bermimpi jika tidak sanggup melakukannya. (menjadi penari yang bagus)
Luh Sekar 1.        “Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringan mereka adalah api. Dari keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.” (Hal 20, Para 4)

2.        “Makanya, Tugeg harus belajar dari pengalaman. Jangan pernah lari dari kenyataan. Semua harus dihadapi dengan berani. Semua orang memiliki peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya.” (Hal 104, para 3)

3.        “Kelak, kau sudah mengenal laki-laki, kau harus tanya dirimu sendiri. Apa dia pantas kau cintai. Apa perasaanmu sungguh-sungguh padanya. Harus bisa kau bedakan rasa kagum dan mencintai dengan baik. Kalau tidak bisa kau bedakan, jangan coba-coba memilih laki-laki untuk tempat bergantung.” (Hal 111, para 3)

 

1.       Perempuan Bali tidak boleh mengeluh dan harus mengurus keluarganya dengan tulus (karakteristik perempuan Bali yang baik).

2.       Jangan pernah lari dari kenyataan dan belajar dari pengalaman.

3.       Harus bisa membedakan rasa kagum dan cinta (memilih laki-laki untuk dinikah)

Telaga 1.        “Itulah Jero Kenanga. Perempuan yang tidak pernah mau

memahami bahwa dunianya dulu sudah berbeda dengan

sekarang. Bahwa kebenaran miliknya tidak pernah sama

dengan kebenaran yagn akan dicari Telaga dalam hidup

ini.” (Hal 123)

2.        “Kebahagiaan itu sulit digambarkan. Juga tidak bisa diucapkan. Kadang-kadang sesuatu yang tidak bernilai bisa membuat kita tentram, lalu beberapa detik kemudian

terenggut lagi.” (Hal 170 par 5)

 

 

1.       Perbedaan kelas sosial antara sudra dan brahmana (hidup Telaga dan ibunya berbeda sekarang)

2.       Mengenai kebahagiaan dalam hidup yang tidak akan tetap, bahkan dalam hal-hal yang dianggap sangat berharga, seperti dalam hidup Telaga.

Leave a Reply