Bahasa Indonesia HLInternal Assessments & Written Tasks

IB Indonesian A language and Literature HL: Written Task 2 Example [Kite Runner]

Do you need help with your Indonesian A: Language & Literature High Level Written Task 2? In this post I will show you my Written Task 2 that I submitted to IB! You can use this to see what a Language A: Language & Literature HL Written Assignment/Written Task looks like and I hope this will inspire you to create your best Language A HL Written Assignment to submit to your teachers! In this Assignment/Task , I asked the question: Bagaimana dan mengapa kelompok Hazara direpresentasikan dengan cara tertentu dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini? from the Power and Privilege area of study of How and why is a social group represented in a particular way? To view my Assignment I submitted just open the PDF right below this! If the PDF does not show, you could read the text version right below it (not recommended since it lacks formatting & images).


 

Bagaimana dan mengapa kelompok Hazara direpresentasikan dengan cara tertentu dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini?

The Kite Runner adalah novel karya Khaled Hosseini yang menceritakan tentang kisah hidup Amir. Buku ini juga menceritakan fakta sisi kehidupan negatif masyarakat Afghanistan yang tidak diketahui orang luar, salah satunya adalah bagaimana kaum Pashtun merasa bahwa mereka mempunyai hak atau kewenangan untuk memperlakukan kaum Hazara semau hati mereka. Kelompok Hazara direpresentasikan sebagai masyarakat yang tidak suci oleh Pashtun dan juga digambarkan sebagai Afghan yang palsu. Kelompok Hazara juga direpresentasikan seperti budak tanpa memandangkan umur, usia, ataupun gender. Namun walaupun kaum Hazara selalu diperlakukan secara negatif, kaum Hazara juga direpresentasikan sebagai masyarakat yang sangat loyal kepada kaum Pashtun yang merupakan atasan mereka. Melalui novel ini, pengarang ingin menyampaikan pesan-pesannya dan kritiknya terhadap masyarakat Afghanistan dan ingin membuat pembaca lebih menyadari hal-hal yang terjadi di sisi dunia lain, khususnya konflik antara kaum Hazara dan Pashtun.
Kelompok Hazara digambarkan oleh orang-orang Pashtun sebagai Afghan palsu dan masyarakat yang tidak suci dan oleh karena itu dibungkam oleh masyarakat Pashtun. Sebenarnya Hazara adalah kaum yang menganut mazhab Syi’ah. Namun, karena menganut fiqah tersebut, mereka ditindas oleh kaum Pashtun yang menganut mazhab Sunni. Pada abad ke-19, kaum Hazara pernah mencoba melawan kaum Pashtun. Namun seperti tertulis pada halaman 23, kaum Pashtun telah “menghentikan perlawananan mereka dengan kekerasan yang tidak terkatakan”. Pemilihan kata “tidak terkatakan” tersebut adalah citraan penglihatan yang digunakan penulis untuk membuat pembaca mengimajinasikan seperti apa pembantaian yang dilakukan kaum Pashtun terhadap kaum Hazara, mengusir mereka dari tanah mereka, membakar rumah mereka, dan juga menjual para wanitanya. Kutipan yang dapat membantu memperkuat konsep ini dapat dilihat pada halaman 62 dimana dikatakan bahwa “Afghanistan adalah negeri milik bangsa Pashtun. Dari dulu begitu dan akan selalu begitu. Kita orang Afghan sejati, orang Afgan murni, tidak seperti si pesek ini.” Selanjutnya dikatakan bahwa orang Hazara dengan kaumnya telah mengotori tanah air, watan, dan darah orang Pashtun. Penggunaan diksi “sejati” dan “murni” mengundang pembaca untuk melihat perspektif masyarakat Pashtun dan melihat bagaimana kejam dan tertutupnya pemikiran Pashtun. Sikap kaum Pashtun ini digambarkan juga di halaman 128 ketika Rahim Khan, seorang pria Pashtun, mengenalkan Homaira yang merupakan keturunan kaum Hazara kepada keluarganya. Rahim Khan menceritakan bagaimana geramnya ayahnya. Ibunya bahkan sampai jatuh pingsan karena hal ini dianggap amat memalukan.
Kaum Hazara juga direpresentasikan seperti budak tanpa memandangkan umur atau gender. Kaum Hazara diperintahkan untuk mencuci baju kotor dengan tangan dan menjemurnya di halaman, menyapu lantai, dan pekerjaan lain-lain seperti yang dijelaskan pada halaman 46. Penggambaran kekejian kaum Pashtun kepada Hazara diperkuat di halaman 104 dimana kaum Hazara diperlakukan seperti anjing dan piaraan buruk rupa yang bisa dimainkan saat merasa bosan dan bisa ditendang saat marah. Konsep kaum Hazara yang direpresentasikan seperti budak dan dianggap sama tidak berharganya seperti seekor binatang diperkuat dalam adegan pada halaman 108, saat Hassan disodomi oleh Aseff yang seorang kaum Pashtun. Aseff mengatakan bahwa “mengajar seekor keledai kurang ajar bukanlah dosa”. Perkataan Aseff dilanjutkan dengan komentar sinisnya, “Dia kan hanya seorang Hazara”. Kutipan ini menunjukkan bagaimana kaum kaum Hazara dipandang rendah seperti binatang, setaraf dengan keledai, dan tak berharga sehingga boleh diperlakukan semena-mena. Di bagian akhir cerita, pada halaman 373, diceritakan bahwa Amir bertemu dengan anak Hassan yang bernama Sohrab. Oleh Assef, Sohrab diperintah untuk menari berputar-putar seperti seorang budak. Dari kutipan tersebut pembaca dapat melihat seperti apa perspektif masyarakat Pashtun terhadap Hazara.
Walaupun kaum Hazara selalu diperlakukan secara negatif, kaum Hazara direpresentasikan sebagai masyarakat yang sangat loyal kepada kaum Pashtun yang merupakan atasan mereka. Hal ini disampaikan melalui karakter Hassan, yang selalu setia kepada Amir majikannya dari kaum Pashtun. Di halaman 79 digambarkan bahwa Hassan adalah pengejar layang-layang untuk Amir. Pada halaman 101 kutipan “Untukmu ke-seribukalinya” yang dikatakan oleh Hassan menunjukkan betapa tulusnya komitmen kaum Hazara untuk membantu kaum Pashtun. Bahkan, pada halaman 115, Hassan berbohong tentang sodomi yang dialaminya kepada ayah majikannya demi kebaikan Amir. Dia tidak mau Amir mendapatkan masalah karena dia. Pada halaman 125 Amir mengaku bahwa, “Kemana pun aku berpaling, aku melihat tanda-tanda kesetiaannya, kesetiaan tanpa syarat keparatnya”. Di sini pembaca diajak untuk melihat perbedaan antara kedua kaum dan bagaimana kaum Hazara rela diperlakukan dengan jahat.
Melalui novel ini, pengarang berhasil memberitahukan kepada pembaca tentang apa yang terjadi di Afghanistan. Dalam dunia nyata, permasalahan antara kaum Hazara dan Pashtun benar-benar terjadi di Afghanistan hingga kini. Konflik ini sudah mencapai titik dimana terjadi kekerasan fisik antara kedua etnik berbeda tersebut seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan banyak perlakuan keji lainnya. Tentu saja perlakuan seperti ini tidak dapat diterima karena melanggar hak asasi manusia seperti yang digariskan oleh United Nations. Perlakuan seperti memperbudak atau memperkosa adalah hal-hal sangat tidak bermoral dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Kiranya The Kite Runner dapat mencelikkan mata dunia terhadap ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus masih terjadi di dunia saat ini. Word Count: 800

Daftar Pusaka

“Ethnic Violence in Afghanistan.” Wikipedia. Wikimedia Foundation. Web. 09 Mar. 2016. <https://en.wikipedia.org/wiki/Ethnic_violence_in_Afghanistan>.
Zhang, Alex. “Hazara Pashtun Conflict.” Hazara Pashtun Conflict – Prezi. Prezi, 31 Mar. 2011. Web. 09 Mar. 2016. <https://prezi.com/grdt3y_olg83/hazara-pashtun-conflict/>

Leave a Reply