Bahasa Indonesia HL

Analisis: Balada Penyaliban – WS Rendra

Suasana apakah yang dibangun penyair dalam puisi ini?

Suasana sedih/iba (nada puisi melankolik)

Kutipan

  • “Yesus berjalan ke Golgota disandangnya salib kayu” – baris 1
  • “Tiada mawar-mawar di jalanan” – baris 4
  • “Bunda menangis dengan rambut pada debu” – baris 24

Efek

  • Meraskan apa yang terjadi saat Yesus harus berjalan ke bukit Golgota
    • Yesus juga memikul salib kayu yang berat
  • Pembaca membayangkan saat tidak ada mawar-mawar dijalanan,
    • mawar melambangkan apresiasi dan cinta
  • Situasi nya sangat berbeda saat minggu palem dimana banyak daun-daun palem dijalankan ketika menyambut kedatangan Yesus.
  • Pada baris 24 pembaca dapat membayangkan ketika Bunda menangis sampai dirinya tersungkur ke tanah

 

Suasana mencekam & menegangkan

Kutipan

  • “domba putih menyeret azab dan dera” – baris 6
  • “Telah terbantai domba paling putih” – baris 14
  • “dikunyahnya dan betapa getirnya” – baris 21
  • “air mawar merah dari tubuhnya menyiram jalanan kering” – baris 30
  • “pembantaian berlangsung atas taruhan dosa” –baris 32
  • “akan diminumnya dari tuwung kencana anggur darah lambungnya sendiri” –baris 34

Efek

  • Merasakan betapa mencekamnya dan menegangkannya keadaan saat itu ketika Yesus disiksa
  • Merasakan ketengangan yang dirasakan Yesus
  • Merasakan betapa kejamnya keadaan saat pembantaian berlangsung atas taruhan dosa
  • Anggur yang diminum oleh Yesus adalah anggur asam baris 34 = lambung asam

 

Suasana refleksi/perenungan untuk pembaca

Kutipan

  • “dan pada tarikan napas terakhir bertuba..” – baris 36
  • “Bapa, selesailah semua!” – baris 37

Efek

  • Mengingat apa yangs udah dilakukan oleh Yesus
  • Menanggung dosa manusia dengan cari disalib
  • Disiksa
    • Hingga sekarat
    • Tidak bisa berbuat apa-apa lagi
  • Betapa taatnya Yesus pada Bapa di surge
    • Untuk menyelesaikan tugasnya di bumi.
  • Harus mati
    • Mengorbankan hidupnya
      • Menebus dosa umat manusia

 

Jadi suasana apa yang dibangun?

Pembaca dapat merasakan apa yang terjadi saat Yesus harus berjalan ke bukit Golgota sambil memikul salib kayu yang berat. Pembaca juga dapat membayangkan saat tidak ada mawar2 dijalanan, mawar melambangkan apresiasi dan cinta. Situasi nya sangat berbeda saat minggu palem dimana banyak daun-daun palem dijalanan ketika menyambut kedatangan Yesus. Pada baris 24, pembaca dapat membayangkan ketika Bunda menangis sampai dirinya tersungkur ke tanah.

Pembaca juga dapat merasakan betapa mencekamnya dan menegangkannya keadaan saat itu ketika Yesus di siksa. Pembaca juga dapat merasakan ketengangan yang dirasakan Yesus dan juga orang2 yg hadir pada saat penyaliban. Pembaca juga bisa merasakan kegetiran yang dirasakan Yesus. Pembaca bisa merasakan betapa kejamnya keadaan saat pembantaian berlangsung atas taruhan dosa. Baris 34 menunjukan bahwa anggur yang diminum oleh Yesus adalah anggur asam. Hal ini berhubungan dengan lambung asam.

Selain itu pembaca dapat mengingat apa yang sudah Yesus lakukan yaitu menanggung dosa manusia dengan cara disalibkan. Ia juga harus di siksa, keadaanya sekarat dan tidak bisa berbuat apa2 lagi. Pembaca juga bisa mengetahui betapa taat nya Yesus kepada Bapa nya yang disurga untuk menyelesaikan tugasnya di bumi. Yesus juga harus mati dan mengorbankan hidupNya untuk menebus dosa umat manusia.


Komentari teknik yang digunakan penyair untuk membangun suasana tersebut

Teknik Alur Progresif: Struktur puisi seperti cerita

  • Ada eksposisi —> “Yesus berjalan ke Golgota” (Baris 1)
  • Ada komplikasi —> “Air mawar merah dari tubuhnya menyiram jalanan kering…” (Baris 28)
  • Ada klimaks —> “Dan pada tarikan napas terakhir bertuba: —Bapa selesailah semua!” (Baris 34-35)
  • Efek : pembaca dapat merasakan suasana yang intens seiring membaca puisi
    • Merasakan suasana yang intens walaupun membaca puisi
    • Lebih mengerti tentang cerita yang sedang terjadi didalam puisi tersebut

 

Teknik Pemilihan diksi: Membangun suasana dengan pemilihan kata yang tepat

  • “azab dan dera” – baris 6
    • Arti “penderitaan/ kesengsaraan”
      • Azab = Siksaan
      • Dera = Pukulan/cambukan (hukuman)
    • “Mentari meleleh” – baris 9

Efek

  • Terbentuk suasana kesedihan dan penderitaan
  • Penulis dapat membuat pembaca
    • membayangkan apa yang terjadi lebih baik
      • dengan pemilihan kata tersebut

 

Teknik Citraan Pendengaran

  • “Perempuan! Mengapa kautangisi diriku dan tiada kautangisi dirimu?” – baris 26-28
    • Sedih keadaan saat itu
    • Yesus harus menanggung penderitaan yang sangat berat

Teknik Citraan Penglihatan

  • “Tiada mawar-mawar dijalanan” –baris 4
    • Mengetahui situasi/setting dimana mawar-mawar (cinta)
      • Sudah tidak ada lagi di jalanan

Teknik Citraan Perasaan

  • “Bunda menangis dengan rambut pada debu” – baris 24
    • Suasana sedih terlihat dari ibu

One thought on “Analisis: Balada Penyaliban – WS Rendra

Leave a Reply