Bahasa Indonesia HL

Bahasa Indonesian A: Language Literature HL: Worksheet 2 Example

Worksheet 2 Essay

Pernyataan bahasa inggris terkenal “A picture is worth a thousand words”, atau yang diterjemahkan sebagai “sebuah gambar bernilai seribu kata” mengingatkan kita bahwa setiap gambar selalu memiliki pesan atau cerita dibelakangnya. Apakah itu pesan yang memliki tujuan untuk membuat pembaca sadar atas suatu hal, atau memiliki tujuan untuk menceritakan suatu kejadian. Ada dua gambar kartun yang disediakan, yaitu gambar pertama yang berjudul “Cemetery of Women” dan yang kedua yang berjudul “Women should stay at home and raise their children”. Esai ini akan menganalisa dua gambar tersebut dari segi konteks, pesan, teknik, dan audiens, dan juga menjelaskan bagaimana gambar tersebut adalah gambar yang menunjukan seksisme.

Setiap gambar kartun yang disediakan memiliki konteks yang berbeda-beda. Untuk gambar yang pertama, pengarang mencoba untuk menciptakan parody kuburan untuk wanita. Pengarang ingin menunjukan bagaimana perempuan akan diingat oleh keluarganya setelah meninggalkan dunia melalui tulisan-tulisan di batu nisan tersebut. Gambar yang kedua adalah parodi karya pengarangnya terhadap masyarakat yang percaya bahwa perempuan harusnya kerja dirumah dan mengurus keluarga. Pengarang menggunakan judulnya dan ilustrasi seorang laki-laki yang ada disebuah pulau sambil mendorong seorang perempuan untuk mencoba menguatkan tujuannya.

Melihat kembali kepada kutipan yang diatas yang menyatakan bahwa sebuah gambar bernilai seribu kata, kita dapat sepakat bahwa sebuah gambar dapat mencoba mengirim pesan kepada pembacanya. Pesan tersebut namun dapat dilihat dari sudut atau pandangan yang berbeda-beda tergantung dari orang yang melihat gambar tersebut. Untuk gambar yang pertama, pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa kita mempunyai pola-pikir bahwa perempuan tidak diharapkan untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat dampak besar kepada masyarakat atau dunia. Biasanya batu nisan tersebut di-isi dengan hal-hal yang positif tentang kontribusi seseorang terhadap masyarakat, namun pengarang ingin membuat kita sadar bahwa perempuan tidak diharapkan untuk berdampak di masyarakat selain membantu rumah-tangga. Untuk gambar yang kedua, pengarang mencoba memberitahu pembaca bahwa perempuan harusnya tinggal dirumah dan mengurus keluarganya. Ini dapat dilihat dari judulnya dan dari gambar tersebut. Bisa dilihat bahwa laki-laki adalah orang yang mencoba bertahan hidup dan bekerja keras untuk mendukung keluarganya.

Teknik yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan pesan dari gambar yang pertama adalah dengan menggunakan ilustrasi tersebut, khususnya menggunakan tulisan atau gelar yang diberikan dari batu nisan tersebut. Dari semua batu nisan yang digambar oleh pengarang, kebanyakannya menunjukan bagaimana perempuan adalah ibu yang baik. Ini menunjukan bahwa perempuan hanya dihargai untuk hal-hal yang diasosiasikan sebagai pembantu keluarga yang kerjaannya hanya membersihkan dan mengurus rumah-tangga. Contoh lainnya adalah dari gambar batu yang kanan yang menunjukan “Daughter of, Wife of, Mother of” atau yang diterjemahkan sebagai “Putri dari, Istri dari, Ibu dari”. Ini menunjukan bagaimana perempuan diperlakukan seperti suatu objek yang dimiliki seseorang. Teknik yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan pesan dari gambar kedua adalah melalui judulnya. Kata “should” atau yang diterjemahkan sebagai “seharusnya” adalah kata yang sangat keras dan memaksa. Jika diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia judul tersebut menjadi “Perempuan harus tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak mereka”. Sebagai tersirat, kata “should” mengartikan bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan apa-apa kecuali selain mengurus keluarga. Gambar yang kedua juga menunjukan bahwa laki-laki harus hidup dengan kerja keras dan mengorbankan semuanya untuk keluarganya supaya mereka bertahan hidup. Ini ditunjukan dengan ilustrasi seorang laki-laki yang ada di sebuah pulau yang sedang mencoba untuk bertahan diri tanpa baju sendiri tanpa bantuan perempuan. Perempuan digambar tersebut terlihat seperti beban, dan tidak membantu.

Audiens yang dibidik dari pengarang atau illustrator kedua kartun ini cocok untuk semua orang yang membacanya. Untuk sesama perempuan, kedua ilustrasi tersebut dapat membuat perempuan sadar bahwa betapa seksisme dunia ini terhadap aksi-aksi mereka. Untuk laki-laki, gambar-gambar tersebut mencoba untuk membuat mereka menyadari konsep atau pola-pikir laki-laki yang tidak begitu benar supaya dapat dibetulkan. Gambar yang pertama menunjukan bahwa perepmuan hanya dihormati oleh kontribusinya kepada keluarganya. Ini memberi pesan kepada pembacanya supaya perempuan harusnya dihormati untuk hal-hal lainnya Gambar yang kedua menunjukan bahwa sebenarnya perempuan tidak cuma harus melakukan pekerjaan rumah.

            Sebagai konklusi, kedua ilustrasi tersebut memiliki tujuan yang sama. Tujuan tersebut adalah untuk menunjukkan bagaimana perempuan telah di diskriminasi atau seksisme dengan menggunakan pola-pikir masyarakat terhadap perempuan. Melalui analisa dari konteks, pesan, teknik, dan audiens yang disediakan dari esai ini, mudah-mudahan anda dapat menyadari pola-pikir masyarakat yang salah dan mulai mencoba untuk tidak melakukan seksisme.

 

Word Count: 700

Leave a Reply