Bahasa Indonesia HL

Apa itu Republik Cangik – Teater Koma?

“Meskipun drama berlatar masa lampau yang sudah jauh, maksud penulisannya adalah untuk mengangkat masalah masa kini juga”

Pada tanggal 21 November 2014, tim produksi Teater Koma mempresentasikan drama teater baru mereka yang bernama Republik Cangik. Teater Koma terkenal sebagai kelompok teater Indonesia yang memiliki reputasi yang sangat bagus dan bisa dibilang teater yang paling terkenal di Indonesia. Teater ini terkenal karena mereka merupakan kelompok teater independen yang selalu mementaskan tentang topik yang mengkritik situasi-situasi yang sedang terjadi di Indonesia terutama situasi sosial atau politik. Sebagai akibatnya, kelompok teater ini sering menghadapi pelarangan pentas dan larangan keras dari pihak yang dikritik. Untuk tetap menggelar aksi panggung mereka adalah dengan menciptakan parodi yang akurat tentang topik tersebut lengkap aksi panggung menggunakan nama-nama samaran dan alur cerita yang dimodifikasi. Walaupun alur ceritanya cukup berbeda, ceritanya dapat dihubungkan secara akurat dengan situasi yang dikritik.

Drama Teater yang belakangan ini baru dipersembahkan dengan judul bernama Republik Cangik mengisahkan tentang Cangik dan Limbuk. Mereka dikisahkan sedang mencari pemimpin baru untuk mengayomi negeri Suranesia karena Maharaja Surasena yaitu pemimpin sebelumnya telah meninggal dunia. Meskipun drama berlatar masa lampau fiktif yang sudah jauh, maksud penulisannya adalah untuk mengangkat masalah masa kini juga. Pertama, bisa dilihat bahwa negeri “Suranesia” adalah nama samaran mereka untuk “Indonesia”. Kata “Maharaja Surasena” adalah nama samaran untuk “Presiden Susilo (Bambang Yudhoyono)”. Dan cerita tentang pemilihan pemimpin baru yang dibuat juga dapat dikoneksikan dengan pemilu yang yang baru saja dilaksanakan tahun ini. Dari tiga hal tersebut, dapat diasumsikan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk membicarakan dan mengkritik tentang pemilu yang baru saja diadakan.

Teater Koma adalah grup teater yang terkenal sangat berani melontarkan kritik pedas. Mereka dapat mengkritik hal-hal sederhana seperti barang-barang hingga mengkritik tokoh-tokoh Indonesia yang penting dan terkenal. Grup teater ini mengkritik tokoh-tokoh penting Indonesia tersebut tanpa merasa takut dipidana. Kritikan mereka juga tidak sekedar kritik biasa, namun mereka membawa-bawa kontroversi dan atau skandal tokoh tersebut. Dalam drama teater ini sendiri, karakter-karakter yang muncul melambangkan tokoh-tokoh penting Indonesia tanpa menggunakan nama asli tokoh tersebut. Nama samaran yang digunakan adalah parodi dari nama asli mereka.

Selain karakter yang bermain sebagai wayang atau dewa-dewi, karakter pertama yang muncul sebagai calon pemimpin baru yang akan mempimpin Suranesia adalah Jaka Wisesa. Dibanding dengan karakter lain yang muncul, Jaka Wisesa terlahir sebagai orang sederhana dan bukan bangsawan. Namun dia meniti karirnya menjadi gubernur. Sekarang, karena Suranesia membutuhkan pemimpin baru, ia mencalonkan dirinya menjadi untuk presiden. Jaka Wisesa mempunyai reputasi yang bagus untuk kontribusinya kepada masyarakat yang membuatnya memiliki banyak pengikut. Saking banyak pengikutnya hingga Jaka Wisesa mempunyai slogannya sendiri yaitu salam satu jari. Jaka Wisesa dengan jelas melambangkan Joko Widodo atau yang lebih dikenal sebagai Jokowi. Dalam situasi nyata, seperti yang digambarkan oleh Jaka Wisesa Jokowi telah melakukan hal-hal tersebut dan juga mempunyai slogannya sendiri, salam dua jari.

Santunu Garu adalah karakter kedua yang muncul pada drama teater ini. Santunu Garu dipresentasikan sebagai bangsawan kaya dan letnan jenderal yang berperilaku keras dan sangat berwibawa. Di dalam drama teater ini, Santunu Garu adalah parodi untuk Prabowo Subianto. Santunu Garu ditampilkan sebagai orang yang jahat dan kejam, orang yang tidak sabaran dan yang suka menyuruh. Bahkan ia tidak segan menembaki orang yang tidak mau melakukan perintahnya.        Karakter lain yang dimunculkan adalah Dundung Bikung (parody untuk Wiranto Hanura), Graito Bakari (parody untuk Aburizal Bakrie), Burama Rama (parody untuk Rhoma Irama), dan Binanti Yugama.  Graito Bakari merupakan salah satu karakter yang juga dikritik sangat keras oleh penulis naskah drama melalui pulau baru yaitu pulau lumpur yang dibentuknya (parodi untuk kejadian lumpur Lapindo).

Teater ini mempunyai tujuan untuk mengingatkan penontonnya tentang sejarah setiap karakter dan skandal atau kontroversial yang terjadi di negeri ini. Dalam drama teater ini, Jaka Wisesa ditampilkan secara positif. Bisa dibilang drama ini sedikit bias karena penulis naskah drama hampir tidak mengkritiknya di seluruh pertunjukan tetapi banyak mengkritik karakter-karakter lain. Pada sisi lain, Santunu Garu ditempatkan sebagai antagonis utama. Santunu Garu dipresentasikan sebagai orang yang sangat licik dan akan melakukan apapun untuk menjadi pemimpin rakyat Suranesia termasuk menyuap massa dan teman lawannya untuk membantunya. Dengan memaparkan hal-hal yang dilakukan tokoh tersebut, rakyat dapat memilih pemimpin baru yang lebih layak memegang tampuk kepemimpinan. Karena teater ini adalah cermin kehidupan nyata, dan semua kejadian dan karakter-karakter yang muncul dalam drama teater ini berdasarkan fakta dari kehidupan nyata, teater koma mencoba mengirimkan pesan kepada penontonnya untuk memilih presiden yang mumpuni dan merakyat dan bukan pemimpin yang memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.

Pada akhirnya, drama teater ini menyodorkan nilai hidup yang sangat layak diingat: Pilih pemimpin yang jujur dan visioner, yang mempunyai tujuan yang jelas bagi kemakmuran pengikutnya, bukan untuk demi kemakmuran sendiri. Seorang pemimpin bekerja untuk rakyatnya dan bukan untuk dirinya sendiri dan maka dari itu seorang pemimpin haruslah jujur, tidak boleh curang atau korupsi.

Leave a Reply