Bahasa Indonesia HL

Analisis Puisi: Ada Tilgram Tiba Senja – W.S. RENDRA


Puisi Ada Tilgram Tiba Senja

(Ada tilgram tiba senja
Dari pusar kota yang bila
Disemat di dada bunda.)

(BUNDA, LETIHKU TANDAS KE TULANG,
ANAKDA KEMBALI PULANG).

Kapuk randu! Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaran.

Dulu ketika pamit mengembara
Kuberi Ia kuda Bapanya
Berwarna sawo muda
Cepat larinya
Jauh perginya.

Dulu masanya rontok asam jawa
Untuk apa kurontokkan air mata?
Cepat larinya
Jauh perginya.

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
Menghunjam kerimba dan pusat kota.

Tinggal bunda di rumah menepuki dada
Melepas hari tua, melepas doa-doa
cepat larinya
jauh perginya.

Elang yang gugur tergeletak
elang yang gugur terebah
satu harapku pada anak
ingat ‘kan pulang’ pabila lelah.

Kecilnya dulu meremasi susuku
Kini letih pulang ke ibu
Hatiku tersedu
Hatiku tersedu

Bunga randu! Bunga randu!
Anakku lanang kembali kupangku

Darah, o , darah
Ia pun lelah
Dan mengerti artinya rumah

Rumah mungil berjendela dua
serta bunga di bendulnya
bukankah itu mesra?

Ada podang pulang ke sarang
tembangnya panjang berulang-ulang
–Pulang, ya pulang, hai Petualang!

Ketapang. Ketapang yang kembang
berumpun di dekat perigi tua
anakku datang anakku pulang
kembali kucium, kembali kuriba.


Penjelasan Powerpoint (Script PPT): [Karya: Friska Agneta & James Adhitthana]

Lapis Batin

Sense (Tema)

  • Didalam cerita puisi ini
    • ada anak yang meninggalkan ibunya
    • pergi mengembara
      • arti kamus: “pergi ke mana-mana tanpa tujuan dan tempat tinggal tertentu: setelah beberapa lama”
      • gampangnya: Meninggalkan rumah untuk mencari pengalaman, berjelajah, dan lain lain
    • Tema ini dapat dilihat dari diksi yang ada
      • Dari diksi
        • pulang (baris 5, 28, 30, 41, 43, 46)
        • kuncup-kuncup (baris 8)
          • Berkembang seperti bunga di hati
        • mengembang bemerkahan (baris 9)
        • harapku (baris 27)
        • rumah (baris 37)
        • berkembang (baris 44)
        • datang (baris 46)
      • Dari baris
        • “Anakda kembali pulang” (baris 5)
        • “Selembut tudung cendawan kuncup-kuncup di hatiku pada mengembang bemerkahan” (baris 7-10)
        • “Anakku lanang kembali kupangku” (baris 33)
        • “Anakku datang, anakku pulang” (baris 46)
        • “Kembali kucium, kembali kuriba” (baris 47)
      • Dari repetisi
        • hatiku tersedu, hatiku tersedu (baris 31-32)
        • Pulang ya pulang, hai Petualang (baris 42-43)
        • Ketapang yang kembang (baris 44)
        • anakku datang, anakku pulang (baris 46)
      • Dari tokoh
        • Ibu yang mengerti dan menuruti keinginan anaknya meskipun dia harus berkorban tinggal sendirian di hari tuanya.
        • Ketika anaknya kembali pulang, sang ibu sangat gembira memikirkan kedatangan kembali anaknya.

Feeling (Pokok persoalan/perasaan)

  • Mengungkapkan kegembiraan sang ibu
    • Anaknya akhirnya ingin pulang setelah sekian lama mengembara.
      • “Kapuk randu! Kapuk randu!” (baris 6)
      • “Bunga randu! Bunga randu!” (bait 33)
      • “Kembali kucium, kembali kuriba” (baris 47)

Intention

  1. Kasih ibu sepanjang masa
    1. Ibu Mau berkorban apa pun untuk anaknya
      • Kuberi ia kuda bapanya (baris 11)
      • Tinggal bunda di rumah menepuki dada melepas hari tua (baris 21-22)
    2. Mau mencoba memahami keinginan anaknya
      • Untuk apa kurontokkan air mata… lelaki yang kuat biarlah menuruti keinginan darahnya (baris 16, 19)
    3. Apapun kondisi anaknya, ibu selalu menerima anaknya kembali.
      • Satu harapku pada anak, ingat ‘kan pulang ‘pabila lelah. (baris 27-28)
  1. Setiap orang butuh pulang
  • Bagaimanapun juga seorang anak tetap membutuhkan orang tuanya. Orang tua adalah “rumah” tempat anak pulang, tempat melepaskan lelah, dan mendapatkan penghiburan.
    • Bunda, letihku tandas ke tulang, anakda kembali pulang (baris 4-5)
    • Kini letih pulang ke ibu (baris 30)

 

Perkembangan ide dari awal hingga akhir puisi

Eksposisi

  • “Ada tilgram tiba senja”
  • “Disemat di dada bunda.”
  • “Kapuk randu! Kapuk randu!”

Menyampaikan latar, tokoh-tokoh yang terlibat, dll

Bait 1:

  • Ibu merasa sangat senang karena mendapatkan tilgram dari anaknya yang memberitahunya bahwa ia akan kembali pulang
    • Sangat senang = “disemat di dada bunda”

Bait 2:
Telegram memberitahu anak akan kembali pulang

Bait 3:

Ibu senang sekali hingga diekspresikannya ke Kapuk randu (menunjukkan bahwa ia di pedesaan dan ia sendirian)

Kerumitan

  • “Dulu ketika pamit mengembara”
  • “Kuberi ia kuda bapanya”
  • “Untuk apa kurontokkan air mata?”

Bentuk flashback, mengingat sedih ibu masa lalu      

Bait 4:

  • [Flashback] Dulu ibu memberi kuda bapaknya kepada anaknya untuk pergi mengembara

Bait 5:

  • Di masa rontok asam jawa anakknya meninggalkan ibu untuk mengembara
  • Menunjukan perasaan ibu yang sebenarnya sedih, tetapi menahan tangisannya.

Klimaks

  • “ Tinggal bunda di rumah menepuki dada”
  • “Melepas hari tua, melepas doa-doa_”
  • “Satu harapku pada anak”
  • “Ingat ‘kan pulang pabila lelah.”

Ibu sangat rindu dengan anaknya dan sangat menginginkan ia pulang

Bait 6:

  • Anaknya meninggalkannya ke kota dan meninggalkan ibunya yang sudah tua sendirian

Bait 7:

  • Ibunya berharap supaya anaknya pulang dan tidak lupa asal usul

Penurunan

  • “Bunga randu! Bunga randu!”
  • “Anakku lanang kembali kupangku”

Ibu senang kembali setelah sadar bahwa anaknya akan pulang

Bait 9:

  • Ibu senang sekali anaknya akan pulang hingga diekspresikannya ke bunga randu

Denoument

  • “Anakku datang anakku pulang”
  • “Kembali kucium, kembali kuriba”
Bait 6:

Anaknya meninggalkannya ke kota dan meninggalkan ibunya yang sudah tua sendirian

Bait 7:

Ibunya berharap supaya anaknya pulang dan tidak lupa asal usul

Bait 8:

[Flashback] Masa lalu

Bait 9:

Ibu senang sekali anaknya akan pulang hingga diekspresikannya ke bunga randu

Bait. 10: –

 

Bait. 11:

[Flashback] Rumah masa lalu

Bait 12: –

Bait 13:
Anaknya akhirnya pulang dan dicium ibunya dan diribanya

Ibu sangat senang dapat bertemu dengan anakknya yang kembali pulang

Bait 13:
Anaknya akhirnya pulang dan dicium ibunya dan diribanya

  • Simpati pada si ibu
    • Ibu rela melepaskan anaknya pergi berpetualang dan meninggalkan dirinya yang sudah tua sendirian
  • Mengungkapkan kegembiraan sang ibu
    • Anaknya akhirnya ingin kembali setelah sekian lama mengembara

Tone (Nada Puisi)

  • Ibu akan memberikan segalanya, termasuk mengorbankan keinginannya sendiri (sebenarnya ibu tidak ingin anaknya pergi) untuk membuat anaknya bagahia
    • Kadang-kadang anak itu ngikutin kemauan diri sendiri dan tidak peduli dengan perasaan ibunya

Intention (Amanat Puisi)

  • Memberitahu orang muda supaya mereka juga memikirkan kesenangan ibu

Lapis Fisik

Diction (Diksi)

  1. Untuk menggambarkan kegembiraan hati sang ibu yang hidup sendirian, sang ibu “berbicara” pada alam sekitarnya:
    1. Kapuk randu
    2. Bunga randu
    3. Ketapang
  2. Untuk menggambarkan waktu
    1. Masa rontok asam jawa
    2. Ketapang yang kembang
  3. Untuk menggambarkan hartanya sebagai orang desa
    1. Kuda sawo muda
    2. Rumah mungil berjendela dua
  4. Metafora yang digunakkan menggambarkan alam pedesaan
    1. Elang
    2. Podang
    3. Perigi

Imagery (Imajinasi)

  1. Tilgram tiba di senja
    1. Berita lama yang ditunggu
      1. Hampir saja terlambat kalau sang ibu wafat sebelum anaknya pulang
    2. Pusar kota
      1. kota besar
    3. Latih tandas ke tulang
      1. Sangat lelah
    4. selembut tudung cedawan, kuncup-kuncup di hatiku, pada memngembang bemerkahan
      1. harapan yang perlahan bertumbuh
    5. Kuda sawo muda
      1. Cepat dan kuat, membawa anaknya pergi
    6. Rontoh asam jawa untuk apa kurontokkan air mata?
      1. Kesedihan sang ibu melepas kepergian anaknya
    7. Menuruti darahnya
      1. Mengikuti gejolah hati orang muda
    8. Menghujam ke rimba dan pusar kota
      1. Masuk dan mengeksplorasi dunia
    9. Rumah mungil berjendela dua, serta bunga dibendulnya
      1. Bukan hanya bangunan tempat tingal, tetapi “home”
        1. “home” = pulang (home sweet home)
          1. Tempat melepaskan lelah dan menjadi diri sendiri

Figurative Language (Gaya Bahasa)

  • Personifikasi
    • Sang ibu curhat perasaannya kepada
      • Kapuk randu, bunga randu, ketapang
    • Metafor
      • Selembut tudung cendawan, kuncup-kuncup di hatiku mengembang
      • Elang yang gugun tergeletak, elang yang gugur terebah
      • Ada podang pulang ke sarang, tembangnya panjang berulang-ulang

Rhythm and Rhyme (Irama dan Rima)

  • Irama
    • Bervariasi panjang pendek
    • Repetisi 3 kali (cepat larinya, jauh perginya)
  • Rima
    • Rima paruh

 

 

Leave a Reply