Bahasa Indonesia HL

Analisis: Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (Hal 268-443)

Worksheet – 4

Sumber        : hal 268-443

  1. Uraikan 5 hal penting yang ingin disampaikan oleh Miriam melalui suratnya pada halaman 282-289. Mengapa menurutmu Pramodya menyampaikan hal-hal tersebut melalui sebuah surat dan dari seorang Miriam?

  • Hal penting yang ingin disampaikan oleh Miriam :
    1. Tuan de la Croix memiliki perhatian kepada Minke dimana dia tidak memandang Minke sebagaimana nya dengan pribumi lainnya. Seperti pada kutipan, “Kau, katanya, orang Jawa dari jenis lain, terbuat dari bahan lain, seorang permula dan pembaru sekaligus”.
    2. Hal yang dilakukan kepada bangsa Jawa di akhir abad 19 tersebut adalah gaya lama dan Pribumi sendiri yang harus bertindak untuk bangsanya sendiri.
    3. Kodra umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan (hal 285).
    4. Minke mempunyai kepribadian unik dan bagus karena ia bangga menjadi orang yang tidak langsung tunduk kepada orang Eropa.
    5. Kejiwaan orang Jawa yang tidak ingin mencari, berputar-putar da mengulang seperti gamelan. Dimana gung kehidupan Jawa yang tak tiba dimana mereka mengharapkan Minke untuk menjadi gung tersebut.
  • Surat dari Miriam digunakan untuk menyampaikan hal-hal tersebut karena penulis ingin menunjukan bahwa ada saja orang Eropa yang tetap peduli dengan bangsa Jawa dan kemajuannya.

 

  1. Mengenal Magda Peter dan pandangan-pandangannya merupakan sebuah kehormatan pada diri Minke. Sosok dan pandangan Magda Peter mana yang juga memberi pengaruh pada dirimu?

  • Magda Peters adalah guru yang sangat bagus dimana ia tidak berlaku bias terhadap siapapun dan dia adalah orang yang sangat objektif. Walaupun Minke tidak masuk sekolah dan dirumorkan hal-hal yang negatif, Magda Peters tetap menjadi guru yang baik dan sikapnya terhadap Minke tidak berubah. Biasanya juga orang Belanda memandang rendah orang-orang pribumi (contoh: Robert Suurhof), namun Magda Peters tidak melakukkannya dan memperlakukan pribumi sama.
  • Dari Magda Peters, saya belajar bahwa saya harus lebih objektif dan tidak subjektif dan tidak menilaikan orang-orang langsung berdasarkan rasnya.
  1. Interpretasikan kutipan di bawah ini:

 

  1. “Dia menghendaki aku berharga bagi bangsaku sendiri, bukan bangsanya. Benarkah ada Multatuli dan van Eysinga gaya baru? “ (Minke, Bumi Manusia hal 289)

    • Kutipan ini dikatakan oleh Minke kepada dirinya sendiri dimana ia terkagum dengan keluarga La Croix dan menyampaikan isi pikirannya sendiri. Di bagian ini, Minke terkejut dan terkagum karena ia menerima pesan dari Miriam yang mengutarakan pandangan keluarganya tentang orang-orang pribumi. Dan menurut keluarga La Croix, mereka ingin melihat orang pribumi lebih maju dan ini dapat membuat Minke kaget karena biasanya semua orang Belanda merendahkan orang pribumi.
  2. “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan menjadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.” (Nenek Minke, Bumi Manusia hal 310)

    • Kutipan ini diambil dari monolog yang dilakukan Minke. Monolog ini tentang Minke yang merasa percaya diri terhadap nasib di sekolah HBS. Monolog ini dikatakan Minke saat ia diterima kembali di HBS dan karena hal ini ia lebih optimis dan melihat masa depan dengan harapan baik.
  3. “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” (Magda Peter, Bumi Manusia 313)

    • Kutipan ini dikatakan oleh Magda Peters kepada kelasnya di sekolah HBS yang tidak membaca buku/karya sastra. Ini dikatakkkan karena Magda Peters ingin menyampaikan pendapatnya tentang sastra dimana sastra adalah hal yang membedakan hewan dan manusia atau dengan kata lain sebuah sumber kehidupan. Manusia dan hewan mempunyai banyak kesamaan tetapi manusia mempunyai hati nurani dan hewan tidak (hati nurani terbentuk dari membaca karya sastra).

 

  1. Berikan komentarmu atas beberapa ekstrak di bawah ini. Komentari penggunaan bahasa dan bagaimana kata-kata yang digunakan menimbulkan makna. Dan apa efek yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihan pengarang terhadap pembaca.

    1. Ekstrak halaman 426-427 yang berisi pernyataan Nyai Ontosoroh di pengadilan.

      • Di ekstrak ini Nyai Ontosoroh melontarkan komentar untuk mengkontradik keputusan hakim tentang hubungannya yang tidak pernah digugat hukum namun Minke dan Anelis yang tidak diperbolehkan berlanjut. Bahasa yang digunakan di ekstrak ini adalah bahasa formal karena ini dikatakan kepada hakim di pengadilan dan juga menggunakan pertanyaan retorika. Bahasa yang digunakan Nyai juga sangat efektif karena dengan pertanyaan retoriknya, ini menimbulkan efek kepada pembaca untuk memikirkan ulang pertanyaan Nyai Ontosoroh. Contohnya  seperti di halaman 427 ”Siapa yang menjadi aku gundik? Siapa yang membikin mereka jadi nyai-nyai? Tuan-tuan bangsa Eropa, yang dipertuan. Mengapa di forum resmi kami ditertaakan? Dihinakan? Apa Tuan-Tuan menghendaki anakku juga jadi gundik?”. Melalui ekstrak ini dapat dipelajarkan bagaimana orang Eropa memandang rendanh orang pribumi  dan amarah Nyai Ontosoroh  yang merepresentasikan Pramodeya tentang hal ini.
  2. Ekstrak halaman 464-465 yang berisi nasehat bunda pada Minke.

    • Ekstak ini adalah perbincangan antara Minke dan Bundanya. Dari percakapan ini, bunda mengatakan banyak nasehat seperti pentingnya sebuah rumah, menghormati wanita, pentingnya ilmu pengethuan, pentingnya kewaspadaan, dan menikmati hidup. Bahasa yang digunakan informal karena perbincangan antara ibu dan anak. Yang paling penting dari ekstrak ini adalah supaya Minke tidak lupa daratan dan dari mana dia berasal dan juga bagaimana sebagai orang Jawa harus mendengarkan kata leluhur.
  3. Ekstrak halaman 533-535 yang merupakan penutup novel ini.

    • Halaman-halaman ini adalah adegan dimana Nyai Ontosoroh dan Minke merelakan Anelis pergi karena keputusan pengadilan. ”Sebegini lemah Pribumi di hadapan Eropa?” menjelaskan perasaan orang-orang pribumi di adegan itu dimana mereka merasa tidak berdaya walaupun ada di tanah miliknya sendiri. “Kita kalah, Ma” memberikan kesan dimana orang Indonesia pasrah.

Leave a Reply